Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com — Kesulitan mendapatkan gas elpiji bersubsidi atau gas melon dikeluhkan Ds (25), pemilik warung nasi dan rujak di Desa Wonorejo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Selain mengaku harus mencari pasokan ke desa lain, ia menyebut harga gas yang biasa dibelinya naik dari Rp22.000 menjadi Rp23.000 per tabung, sementara jumlah yang diperoleh terkadang hanya dua tabung dalam sepekan.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas usaha Ds yang membutuhkan empat hingga lima tabung gas untuk menunjang kegiatan memasak. Keterbatasan pasokan membuatnya harus mencari alternatif agar warungnya tetap beroperasi.
“Kalau sekarang Rp23 ribu. Sebelum sulit itu Rp22 ribu memang,” ujar Ds saat ditemui di warungnya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Ds, untuk memenuhi kebutuhan usahanya, ia terkadang harus mencari gas elpiji ke wilayah Paleran di Maron Kulon maupun Wonorejo Utara. Upaya itu dilakukan ketika pasokan di tempat biasa membeli tidak mencukupi kebutuhan.
Ia mengaku jumlah gas yang diperoleh kerap dibatasi. Dalam kondisi tertentu, ia hanya mendapatkan dua tabung selama satu minggu, meskipun kebutuhan warungnya mencapai empat hingga lima tabung.
“Dibatasi. Satu minggu kadang cuma dikasih dua. Tapi kalau sini kan warung, biasanya minimal empat, lima. Tapi dikasih dua,” tuturnya.
Keterbatasan pasokan dan kenaikan harga tersebut, lanjut Ds, turut menambah beban biaya operasional. Namun, ia mengaku kesulitan menaikkan harga makanan karena khawatir memberatkan pelanggan yang selama ini membeli di warungnya.
“Mengganggu sekali. Soalnya kan mau dinaikkan harganya, apa makanannya, enggak enak juga sama pembelinya, pelanggannya. Padahal anunya mahal,” ungkapnya.
Ds berharap Pemerintah Kabupaten Probolinggo memberikan perhatian terhadap kesulitan yang dialami pedagang kecil. Ia meminta agar pasokan gas lebih mudah diperoleh dan harga pembelian tidak semakin membebani pelaku usaha.
“Harapannya sih harusnya jangan dipersulit. Terus jangan agak mahal. Soalnya kan apa-apa sekarang mahal, gasnya juga dimahalin,” katanya.
DKUPP Dimintai Konfirmasi soal Pasokan dan Harga
Menanggapi keluhan tersebut, jurnalis berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto, melalui pesan WhatsApp.
Konfirmasi itu mencakup kondisi ketersediaan dan distribusi gas elpiji di Kecamatan Maron, termasuk keluhan pedagang mengenai keterbatasan jumlah tabung yang diperoleh serta harga pembelian yang disebut mencapai Rp23.000 per tabung.
Jurnalis juga meminta penjelasan mengenai pengawasan harga dan distribusi gas elpiji bersubsidi, mekanisme penyaluran kepada masyarakat dan pelaku usaha mikro, serta langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti keluhan tersebut.
Namun, hingga berita ini disusun, pesan konfirmasi telah tersampaikan dan dibaca, tetapi belum memperoleh tanggapan dari Sugeng Wiyanto. (Mahfud Rosyi)
