PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com — “Saya umur 40 tahun, baru sekarang jalan di desa ini diaspal dan seramai ini.” Ungkapan haru dari Erik Friska Wiyantina atau Ica (40) menggambarkan drastisnya perubahan di Desa Wedusan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Usai perbaikan infrastruktur jalan utama, kawasan yang sebelumnya terisolasi dan rawan kejahatan kini mendadak bertransformasi menjadi ruang publik favorit serta pusat perputaran ekonomi UMKM lokal.
Rasa takjub tak bisa disembunyikan dari raut wajah Ica. Warga Dusun Racek Kedung Supit RT 3, Desa Wedusan ini mengaku, hampir sepanjang hidupnya ia harus menerima kenyataan pahit tinggal di wilayah pedalaman dengan akses jalan yang rusak parah.
Namun, pemandangan buram selama empat dekade tersebut sirna seketika setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo di era kepemimpinan Bupati Gus Haris menyelesaikan pengaspalan jalan utama di wilayah Tiris. Jalan yang tadinya kupak-kapik kini diaspal mulus dan dipadati lalu lalang warga serta wisatawan lokal dari berbagai daerah.
Senada dengan Ica, Zainal Arifin (26), warga setempat yang juga didapuk sebagai Ketua Paguyuban UMKM Pasar Dadakan Wedusan, menceritakan betapa mencekamnya kondisi desanya di masa lalu. Selama lebih dari dua dekade, kerusakan infrastruktur membuat daerahnya tidak hanya sepi dan tertinggal, tetapi juga diselimuti bayang-bayang ancaman pembegalan.
“Awal mulanya di sini itu sepi, tidak seperti ini. Jalannya rusak sampai 20 tahun lebih. Begitu diperbaiki, suasananya makin bagus, rumput-rumput dibersihkan, lalu mendadak viral di TikTok sebagai tempat nongkrong dan berburu pemandangan liburan,” kenang Zainal saat menceritakan awal mula kebangkitan desanya.
Dampak nyata dari hadirnya jalan mulus ini langsung melejitkan sektor ekonomi warga. Belum genap satu bulan akses jalan diresmikan, sebuah pasar dadakan tumbuh secara alami di sepanjang kawasan tebing Wedusan. Kehadiran pasar ini menjadi oase bagi masyarakat sekitar yang selama ini haus akan aksesibilitas, ruang interaksi sosial, serta sarana hiburan yang terjangkau.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aktivitas ekonomi di Pasar Dadakan Wedusan memiliki dinamika operasional yang teratur dan menarik:
Para pedagang mulai memajang lapak sejak pukul 13.00 atau 14.30 WIB. Puncak kunjungan terjadi menjelang senja pada pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, terutama di akhir pekan (weekend).
Daya tarik pasar tebing ini tak hanya menyedot warga Kecamatan Tiris, tetapi juga meluber hingga ke pengunjung dan pedagang dari Tiris Atas, Krucil, Maron, Pesawahan, Wangkal, bahkan mendatangkan warga dari Kabupaten Madura.
Saat ini tercatat ada sekitar 13 hingga 14 lapak warga tetap yang terhimpun dalam paguyuban, serta puluhan pedagang pendatang saat akhir pekan. Seluruh lapak dikelola secara swadaya tanpa adanya pungutan biaya sewa alias gratis.
Kebahagiaan atas terbebasnya desa mereka dari jeratan jalan rusak dirayakan secara hangat oleh warga. Sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam, warga Desa Wedusan sempat menggelar tradisi selamatan beruntun di setiap RT.
Kendati demikian, pesatnya pertumbuhan ekonomi instan ini membawa tantangan baru yang memerlukan perhatian dan penanganan lanjutan dari pemerintah daerah.
Berada tepat di area tebing serta minimnya fasilitas Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) membuat warga dan pedagang khawatir akan potensi gangguan keamanan saat malam bertandang. Selain itu, ketiadaan kantong parkir khusus memaksa kendaraan pengunjung terparkir di bahu jalan tebing, yang berisiko memicu kemacetan lalu lintas.
“Harapannya tentu ada penerangan jalan, karena kalau malam hari cukup gelap dan orang lewat merasa khawatir. Setidaknya ada lampu jalan dan penataan parkir yang baik,” pungkas Zainal penuh harap. (Tim BHI)
