Kejurprov Bela Diri Kurash Piala Wali Kota Probolinggo Jadi Ajang Cetak Atlet Berprestasi

Bagikan

PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com –
Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) bala diri Kurash Piala Wali Kota Probolinggo tidak hanya menjadi arena untuk memperebutkan gelar juara. Ajang yang mempertemukan atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas pembinaan sekaligus mencari talenta baru dalam cabang olahraga bela diri asal Uzbekistan tersebut.

Sebanyak 190 atlet ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung di Gelanggang Olahraga (GOR) Mastrip, Kota Probolinggo, Sabtu (12/9/2026). Mereka datang dari 19 kota dan kabupaten di Jawa Timur dengan komposisi 104 atlet putra dan 86 atlet putri.

Para peserta tampil dalam beberapa kelompok usia. Mulai dari kategori pemula usia 12 tahun, kadet usia 15 tahun, junior usia 18 tahun, hingga kategori senior usia 23 tahun. Keberagaman kelompok usia tersebut menunjukkan bahwa pembinaan kurash mulai menyentuh atlet dari usia dini hingga tingkat senior.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin. Kehadiran ratusan peserta menjadi gambaran bahwa olahraga kurash mulai mendapatkan perhatian, meskipun di Kota Probolinggo sendiri cabang olahraga ini masih tergolong baru.

Kurash dikenal sebagai olahraga yang mengandalkan teknik bantingan. Atlet dituntut mampu menguasai teknik sekaligus membaca pergerakan lawan agar dapat menjatuhkannya secara tepat dan memperoleh poin.

Namun, pertandingan kurash bukan hanya soal kekuatan tubuh. Faktor mental juga memiliki peranan besar. Seorang atlet harus mampu menjaga konsentrasi dan ketenangan ketika berada di arena. Tekanan pertandingan bahkan membuat sejumlah peserta harus meneteskan air mata setelah mengalami kekalahan.

Ketua Federasi Kurash Indonesia (Ferkushi) Kota Probolinggo, Agus Dwi, mengatakan kekuatan fisik harus dibarengi dengan kemampuan teknik dan ketahanan mental. Menurutnya, atlet yang memiliki tubuh kuat belum tentu mampu memenangkan pertandingan apabila tidak bisa mengendalikan diri saat berhadapan dengan lawan.

“Jenis olahraga ini memang didasarkan pada kekuatan bantingan. Jadi ketahanan fisik dan ketenangan saat bertanding merupakan kunci utama,” ujar Agus.

Menurut Agus, Kejurprov Kurash Piala Wali Kota Probolinggo menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kualitas atlet sekaligus memperkuat pembinaan di daerah. Apalagi kurash Kota Probolinggo sebelumnya telah mampu menyumbangkan medali dalam ajang Porprov Jawa Timur.

Ia berharap hasil pembinaan yang dilakukan saat ini dapat melahirkan atlet-atlet yang lebih siap menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi.

“Harapannya pada Porprov Jatim yang akan datang, cabang olahraga kurash bisa meraih medali maksimal,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menilai perkembangan kurash di Kota Probolinggo cukup menjanjikan. Meskipun belum lama berkembang, jumlah masyarakat yang tertarik terhadap olahraga tersebut cukup tinggi. Bahkan, sejumlah orang tua turut mendorong anak-anak mereka untuk bergabung dan berlatih melalui Federasi Kurash Indonesia Kota Probolinggo.

“Meski cabang olahraga baru, tetapi banyak peminat. Orang tua juga mendaftarkan anak-anaknya ke Federasi Kurash Indonesia Kota Probolinggo,” ujar Aminuddin.

Menurut Aminuddin, tingginya minat masyarakat perlu diimbangi dengan sistem pembinaan yang terencana. Pengurus, pelatih, dan atlet harus memiliki sasaran yang jelas sehingga perkembangan kurash tidak berhenti pada tingginya jumlah peserta, tetapi berlanjut pada peningkatan prestasi.
“Ke depan harus punya target, baik pelatih, pengurus, maupun atlet,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar prestasi yang telah diraih atlet kurash Kota Probolinggo pada Porprov Jawa Timur sebelumnya menjadi pemacu untuk bekerja lebih keras. Dengan pembinaan yang konsisten, ia berharap atlet kurash kembali mampu menyumbangkan medali bagi Kota Probolinggo pada Porprov Jatim mendatang.

Kejurprov Kurash Piala Wali Kota Probolinggo akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Kehadiran 190 atlet dari berbagai daerah menjadi peluang untuk melihat perkembangan olahraga tersebut sekaligus memetakan potensi atlet yang dapat dibina lebih lanjut.

Dari ajang seperti inilah bibit-bibit baru diharapkan bermunculan. Atlet yang saat ini masih berada pada kategori pemula maupun junior dapat terus berkembang melalui latihan, pengalaman bertanding, serta pembinaan yang berkelanjutan.

Dengan semakin banyaknya kompetisi dan meningkatnya minat masyarakat, kurash diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu cabang olahraga yang dapat mengharumkan nama Kota Probolinggo dan Jawa Timur, tidak hanya di tingkat provinsi tetapi juga hingga kompetisi nasional.(*Poer)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *