Ketua KPK Nusantara Probolinggo Kecewa Dokter Bungkam Atas Kematian Nelayan Jabung Candi. Dugaan Kelalaian Siap dilaporkan

Bagikan

PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com – Ketua Komunitas Pengawas Korupsi (KPK) Nusantara Probolinggo Raya, Hodik, menyayangkan sikap tidak kooperatif dr. H. Rudi Hartono terkait tuduhan malpraktik yang melibatkan kematian Nur Hasan (45), seorang nelayan asal Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Hodik mengungkapkan kekecewaannya lantaran upaya konfirmasi yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp tidak mendapatkan respons.

“Saya kecewa dengan sikap dr. Rudi yang tidak kooperatif saat saya konfirmasi melalui pesan WhatsApp, malah memilih bungkam. Kami mempertimbangkan untuk melaporkan kinerjanya sebagai pelayan publik ke Inspektorat karena dinilai memicu dampak fatal,” tegas Hodik saat ditemui di kediamannya, Minggu (18/10/2026).

Kronologi dan Pertentangan Keterangan
Kasus ini bermula ketika Nur Hasan didampingi istrinya, Siti Aisyah, berobat ke tempat praktik mandiri dr. H. Rudi Hartono di Desa Kandangjati Wetan, Kecamatan Kraksaan, Jumat (2/10/2026) pagi. Hasan mengeluhkan sakit perut akibat riwayat penyakit lambung yang dideritanya.

Menurut Siti Aisyah, sebelum berobat suaminya hanya mengonsumsi air putih dan sedikit kue tradisional. Di tempat praktik, dr. Rudi mendiagnosis pasien mengalami pembengkakan liver dan memberikan dua suntikan di kedua lengan. Namun, Siti menyayangkan tidak adanya pertanyaan dari dokter mengenai riwayat asupan makanan pasien.

“Tidak, tidak ditanya apa-apa. Saya cuma minta suntik yang bagus,” ujar Siti saat ditemui di RSUD Waluyo Jati.

Petaka terjadi dalam perjalanan pulang. Saat melintas di Jalan Alassumur, Hasan mendadak mengalami kejang-kejang hebat hingga dilarikan warga ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah sempat mendapatkan perawatan darurat, korban dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 01.00 WIB.

Penjelasan Medis RSUD dan Bantahan Dokter

Di tengah simpang siur penyebab kematian, pihak RSUD Waluyo Jati Kraksaan memberikan penjelasan resmi mengenai kondisi medis pasien saat tiba di rumah sakit. Humas RSUD Waluyo Jati, Anang, menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan intensif dan CT scan menunjukkan adanya gangguan fatal pada organ otak pasien.

“Pak Nur Hasan dibawa ke sini memang sudah dalam keadaan tidak sadar dan kejang-kejang. Kami cek gula darah dan jantungnya normal. Setelah dilakukan CT scan, ternyata ada penggumpalan darah di otak,” jelas Anang.

Sementara itu, dr. H. Rudi Hartono membantah keras tuduhan bahwa tindakan penyuntikan obat lambung yang diberikannya menjadi penyebab kematian pasien. Ia menegaskan seluruh penanganan medis telah sesuai prosedur untuk meredakan penyakit lambung yang diidap pasien selama lima tahun.

“Itu sebenarnya hanya kebetulan. Pasien memang sudah sakit selama 5 tahun. Yang saya suntikkan itu cuma untuk lambung, dan obat minumnya pun belum sempat dikonsumsi,” tutur dr. Rudi.

Terkait kedatangannya ke rumah duka pasca-kejadian, dr. Rudi menegaskan hal itu murni bentuk belasungkawa dan rasa kemanusiaan. “Kedatangan saya ke rumah duka bukan karena takut atau salah, tetapi bentuk toleransi dan empati,” pungkasnya. (Tim BHI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *