PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com — Kinerja Perumdam Tirta Argapura Unit Leces Probolinggo menuai kritik tajam dari warga Dusun Tunggul Asih, Desa Malasan Wetan. Meski kran air mati total selama dua bulan dan warga terpaksa membeli air tangki swadaya, lembaran tagihan bulanan dari PDAM Unit Leces disinyalir tetap dibebankan secara penuh tanpa kepastian solusi.
Krisis air bersih ini berdampak langsung pada sedikitnya 48 Kepala Keluarga (KK) di RT 02 RW 01 Dusun Tunggul Asih. Saban hari, warga terpaksa menguras kantong untuk membeli air tangki swadaya guna memenuhi kebutuhan pokok seperti memasak, minum, hingga mencuci.
Kasi Pemerintahan Desa Malasan Wetan, Nisa, mengungkapkan bahwa terhentinya kucuran air berawal dari pengerjaan proyek pelebaran jalan raya di kawasan setempat yang memicu kebocoran pipa jaringan.
“Awalnya air mati-hidup pas ada pelebaran jalan, tapi sekarang malah mati total tidak nyampe ke rumah warga. Di RT 02 ini ada sekitar 48 KK yang terdampak. Kalau warga tidak beli air tangki swadaya, ya tidak dapat air sama sekali,” ujar Nisa saat dikonfirmasi.
Kondisi tersebut kian ironis lantaran lembaran tagihan bulanan dari pihak pengelola disinyalir tetap datang secara rutin. Kekecewaan warga makin memuncak ketika aduan yang dilayangkan melalui pesan singkat kepada pengurus PDAM tidak membuahkan solusi nyata.
Melihat ketidakpastian layanan dari Perumdam, Pemerintah Desa Malasan Wetan mendesak agar segera dilakukan rekayasa jaringan dengan mengalihkan jalur pipa RT 02 ke saluran Desa Malasan Kulon yang disuplai dari tandon Gunung Dami.
BPBD Turun Tangan
Akibat tidak jalannya fungsi distribusi utama dari PDAM, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo terpaksa turun tangan menerjunkan armada truk tangki ke lokasi untuk menyuplai kebutuhan darurat warga.
Petugas BPBD Kabupaten Probolinggo, Farois, mengonfirmasi bahwa kendala teknis pada pipa PDAM yang mangkrak selama dua bulan menjadi pemicu utama krisis air di wilayah tersebut. Selain menyalurkan air tangki, BPBD juga mengusulkan pembuatan sumur bor sebagai solusi jangka panjang.
Tanggapan Pihak Perumdam Unit Leces
Menanggapi tudotan tersebut, Kepala Unit Leces Perumdam Tirta Argapura Kabupaten Probolinggo, Syah Reza Azka Lubis, membenarkan adanya kendala pasokan air bersih dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
“Untuk kendala dalam kurun waktu 2 bulan ini distribusi air memang terkendala akibat seringnya kerusakan dan kebocoran pipa di jalan raya Lumajang, dan beberapa agenda dan kegiatan pumping test juga pemadaman listrik dari PLN sehingga kuantitas dan kontinuitas air yang ke Tunggul Asih terkendala,” jelas Syah Reza.
Terkait sorotan tajam soal tagihan bulanan yang tetap membebankan warga di saat air mati, Syah Reza mengklaim pihaknya tengah mengajukan keringanan biaya bagi pelanggan terdampak.
“Untuk beberapa pelanggan kami ajukan ke pusat untuk tidak direkeningkan (gratis/dihapus beban pemakaiannya), adapun pelanggan yang mempunyai tunggakan adalah pemakaian bulan-bulan lalu. Sampai saat ini distribusi air masih belum normal,” pungkasnya.
Meski begitu, pihak Perumdam Unit Leces belum memberikan kepastian tenggat waktu penyelesaian perbaikan pipa maupun kejelasan tanggal pasti pemberlakuan pembebasan tagihan tersebut secara menyeluruh. (Tim BHI)
