Probolinggo berita harian Indonesia com.-innalillahi weinna ilaihi Raji’un//Oleh: Sahabat dan sesama insan pers / hery BHI.
Tak terasa Tujuh hari telah berlalu sejak kabar kepergian seorang wartawan senior, Bambang Harianto. Tujuh hari mungkin terasa singkat dalam hitungan waktu, tetapi bagi mereka yang pernah mengenal, berbincang, bekerja, dan berjalan bersamanya, kepergian itu meninggalkan ruang yang tidak mudah diisi. 08/08/2026 .
Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan satu hal yang paling sederhana, tetapi sering kita lupakan: tidak ada yang abadi di dunia ini.
Kita datang tanpa membawa apa-apa. Kita tumbuh, bekerja, berjuang, mengejar cita-cita, membangun nama, dan meninggalkan jejak. Namun pada waktunya, semua akan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.
Begitu pula seorang Bambang Harianto.
Sebagai wartawan senior, perjalanan hidupnya tentu tidak hanya diukur dari berapa banyak berita yang pernah ditulis, berapa banyak narasumber yang pernah ditemui, atau berapa banyak halaman media yang pernah memuat tulisannya. Lebih dari itu, seorang wartawan meninggalkan jejak pemikiran, keberanian, persahabatan, dan nilai-nilai yang pernah ia tanamkan kepada orang-orang di sekelilingnya.
Dunia jurnalistik boleh terus bergerak. Berita akan berganti setiap hari. Nama-nama akan datang dan pergi. Generasi wartawan akan terus berganti.
Namun, kenangan tentang seorang senior tidak serta-merta hilang hanya karena raganya telah tiada.
Justru dari kepergian itulah kita kembali diingatkan bahwa profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan. Ada tanggung jawab moral di dalamnya. Ada keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Ada keteguhan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak selalu berpihak.
Dan mungkin, itulah salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan seorang wartawan kepada generasi setelahnya.
Bambang Harianto kini telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Tidak ada lagi kesempatan untuk menyapa. Tidak ada lagi perbincangan panjang tentang berita, tentang dunia pers, tentang kehidupan, ataupun tentang berbagai persoalan yang pernah kita hadapi bersama.
Yang tersisa adalah kenangan.
Yang tersisa adalah doa.
Dan yang tersisa adalah teladan yang semoga terus hidup di antara kita.
Tujuh hari kepergian bukan sekadar momentum untuk mengenang kematian. Ia adalah kesempatan bagi kita yang masih diberi umur untuk bercermin.
Sebab kematian tidak pernah mengenal jabatan. Tidak mengenal usia. Tidak mengenal popularitas. Tidak mengenal seberapa tinggi seseorang berdiri di dunia.
Pada akhirnya, semua akan pulang.
Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Rumah, kendaraan, pekerjaan, bahkan nama besar sekalipun pada akhirnya akan menjadi bagian dari masa lalu.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal dan kebaikan yang pernah dilakukan.
Karena itu, kepergian Bambang Harianto seharusnya tidak hanya membuat kita berduka. Tetapi juga membuat kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita memberikan arti selama hidup?
Sudahkah tulisan kita memberi manfaat?
Sudahkah keberadaan kita membawa kebaikan bagi orang lain?
Dan ketika suatu hari nanti nama kita disebut dalam kenangan, apakah orang akan mengingat kita karena jabatan dan popularitas, atau karena kebaikan yang pernah kita tinggalkan?
Allah SWT telah mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Kita semua sedang menunggu giliran untuk pulang.
Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan waktunya.
Maka hari ini, ketika kita mengenang tujuh hari kepergian Bambang Harianto, sesungguhnya kita juga sedang diingatkan tentang kematian kita sendiri.
Semoga almarhum telah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga segala kesalahan dan kekhilafannya diampuni, segala amal baiknya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta keikhlasan.
Selamat jalan, Mas Bambang Harianto.
Perjalananmu di dunia telah selesai.
Tulisan-tulisanmu mungkin suatu saat akan menjadi arsip. Berita-berita yang pernah kau tulis mungkin akan menjadi bagian dari sejarah. Tetapi jejakmu sebagai seorang wartawan dan sebagai manusia akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenalmu.
Karena pada akhirnya, manusia boleh pergi, tetapi kebaikan yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar mati.
Tujuh hari telah berlalu.
Dan kita yang masih di sini hanya bisa melanjutkan perjalanan, sambil menunggu waktu yang telah ditentukan-Nya.
Sebab kita semua tahu:
Dari Allah kita datang, dan kepada Allah pula kita akan kembali.
Al-Fatihah untuk almarhum Bambang Harianto.
Semoga husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.
