Probolinggo, Senin (23/2/2026) – Dugaan praktik pungutan liar (pungli) kembali mencuat di dunia pendidikan. Kali ini, sorotan tertuju pada SMKN 2 Probolinggo setelah aktivis KPK Nusantara bersama jurnalis melakukan investigasi langsung terkait dugaan pungutan sebesar Rp1.500.000 per siswa. Jika dikalkulasi dari sekitar 1.900 siswa, angka yang beredar disebut-sebut mencapai miliaran rupiah.
Investigasi tersebut dipimpin HK, aktivis KPK Nusantara. Ia menyebut kedatangannya bersama jurnalis BeritaHarianIndonesia.com untuk melakukan klarifikasi atas informasi yang diterima.
“Pada hari ini kami dari KPK Nusantara bersama anggota BHI melakukan investigasi di wilayah Kota Probolinggo, khususnya di SMKN 2 Probolinggo, untuk klarifikasi dugaan gratifikasi atau, dalam istilah lain, pungli yang diduga terjadi di sekolah ini,” ujar HK kepada wartawan.
Menurutnya, dugaan pungutan sebesar Rp1.500.000 per siswa itu disebut menyasar sekitar 1.900 lebih peserta didik. Jika angka tersebut benar, potensi dana yang terkumpul diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,8 miliar.
“Informasi yang kami terima, jumlah siswa kurang lebih 1.900. Kalau dikalikan Rp1.500.000 per siswa, tentu nilainya sangat besar. Ini yang perlu transparansi,” tegasnya.
Dalam investigasi di lokasi, tim KPK Nusantara mengaku telah melakukan konfirmasi kepada beberapa guru di SMKN 2 Probolinggo. Mereka juga sempat menemui Kepala Seksi Humas sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Humas. Namun, menurut HK, yang bersangkutan menyatakan tidak mengetahui persoalan tersebut dan menyebut bahwa hal itu merupakan kewenangan kepala sekolah.
Situasi di lapangan sempat bersitegang dan terjadi adu argumen antara pihak aktivis dan perwakilan sekolah. Meski demikian, pertemuan tetap berlangsung hingga selesai tanpa insiden lebih lanjut.
Dengan adanya dugaan Pungutan Liar ini kami sebagai lembaga Fungsi kontrol dari KPK Nusantara akan segera melayangkan surat kepada semua instansi pemerintah baik dari kejaksaan maupun kepolisian Republik Indonesia
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen SMKN 2 Probolinggo belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan tersebut. Awak media masih berupaya meminta konfirmasi kepada kepala sekolah berinisial WO guna memperoleh penjelasan berimbang sesuai prinsip cover both sides. (Tim)
