Dapur MBG Sidomukti Meski Belum Bersertifikat Halal Tetap Beroperasi

Bagikan

Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com – Fakta bahwa Dapur MBG SPPG Kelurahan Sidomukti 003, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, belum bersertifikat halal mengemuka setelah pihak Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) membenarkan klarifikasi terkait belum sepenuhnya lengkap dokumen administrasi pendukung operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Gratis (SPPG) yang berada di Kelurahan Sidomukti tersebut diketahui telah beroperasi sebagai penyedia makanan dalam program MBG. Namun hingga kini, sertifikat halal untuk dapur tersebut masih belum terbit dan masih dalam tahap pengajuan.

Koordinator Wilayah SPPI Program MBG Kabupaten Probolinggo, Pujo Wisnu, membenarkan hal tersebut saat dikonfirmasi jurnalis.

“Untuk halal masih proses pengajuan,” ujar Pujo.

Meski belum mengantongi sertifikat halal, pihak pengelola memastikan dapur tersebut telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai dokumen penunjang standar kebersihan dan sanitasi operasional dapur.

“Untuk SLHS sudah ada,” katanya.

Sorotan terhadap Dapur MBG Sidomukti 003 muncul setelah warga sekitar menyampaikan keluhan terkait bau limbah dari aktivitas dapur yang mengalir ke selokan permukiman. Salah satu warga, Sudarsih, mengaku terganggu dengan aroma tidak sedap yang muncul dari aliran limbah di depan rumahnya.

Menurut Sudarsih, limbah dapur seharusnya rutin dikuras agar tidak menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.

“Kesadarannya aja, jadi jangan sampai nguras itu tiga hari, dua hari. Jadi limbahnya nggak bau,” ujar warga RT 1 RW 3 Kelurahan Sidomukti tersebut saat ditemui di rumahnya, Kamis (21/5).

Selain soal limbah, Sudarsih mengaku sebelumnya juga pernah menyampaikan protes terkait aktivitas operasional dapur yang dinilai mengganggu waktu istirahat warga karena suara musik dari pengeras suara.

“Sudah saya protes, awal-awalnya memang iya, kayak nyetel tape masih belum izin. Sekarang sudah nggak. Waktunya istirahat, istrahat, pokoknya jangan sampai ada keramaian,” katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Pujo menjelaskan bahwa seluruh aliran air dari pencucian bahan makanan, ompreng, hingga alat masak sudah diarahkan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun, terdapat salah satu komponen IPAL yang sempat mengalami gangguan sehingga pengolahan limbah tidak berjalan maksimal.

“Terjadinya bau dikarenakan ada salah satu komponen IPAL yang bermasalah sehingga pengolahannya tidak maksimal,” ujarnya.

Ia menyebut pihaknya telah melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem IPAL, termasuk memperbaiki gangguan kelistrikan dan pengaturan sistem pengolahan limbah. Pengelola juga melakukan pengurasan rutin secara mandiri sembari menunggu teknisi kembali datang untuk penyempurnaan perbaikan.

“Kami sudah buat janji dengan teknisinya pada 23–24 Mei karena teknisinya masih instalasi IPAL di Bali. Untuk sementara waktu, kita rutin melakukan pengurasan di setiap chamber secara mandiri,” katanya.

Pujo memastikan laporan warga terkait bau limbah tersebut akan segera ditindaklanjuti agar operasional dapur MBG tidak menimbulkan gangguan lingkungan berkepanjangan.

“Untuk laporan ini segera kami tindak lanjut juga,” tambahnya.

Di sisi lain, pihak jurnalis juga berupaya mengonfirmasi persoalan tersebut kepada Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Probolinggo yang juga Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto.

Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Ugas Irwanto mengaku tengah sakit sehingga belum dapat memberikan tanggapan lebih lanjut.

“Maaf saya lagi sakit Mas,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Ugas juga memberikan nomor kontak WhatsApp Asisten Sjaiful untuk tindak lanjut koordinasi terkait konfirmasi persoalan tersebut. (Tim BHI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *