Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com – Perayaan Yadnya Kasada yang bertepatan dengan libur akhir pekan Iduladha mendongkrak tingkat hunian hotel dan kunjungan restoran di kawasan wisata Bromo. Ketua BPC PHRI Kabupaten Probolinggo, Haji Rofiq Ali Pribadi, mengungkapkan okupansi hotel dan restoran meningkat hingga 30 persen dibandingkan hari biasa, sehingga memberikan efek berganda bagi pelaku usaha dan masyarakat sekitar kawasan wisata.
Menurutnya, meningkatnya arus wisatawan tersebut menunjukkan bahwa Bromo tetap menjadi magnet wisata unggulan yang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal.
Haji Rofiq menjelaskan, momentum libur panjang yang bertepatan dengan pelaksanaan ritual sakral Yadnya Kasada 1948 Saka menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari berbagai daerah. Tidak hanya masyarakat yang ingin menikmati keindahan matahari terbit di Gunung Bromo, banyak pula wisatawan yang datang untuk menyaksikan langsung tradisi budaya masyarakat Tengger yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Alhamdulillah, selama momentum Kasada dan libur Iduladha ini tingkat okupansi hotel serta kunjungan ke restoran mengalami peningkatan sekitar 25 hingga 30 persen. Ini menjadi kabar baik bagi pelaku usaha pariwisata dan masyarakat yang menggantungkan penghasilannya dari sektor wisata,” ujar Haji Rofiq.
Ia menuturkan, dampak positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh pengelola hotel dan restoran. Peningkatan kunjungan wisatawan juga memberikan manfaat ekonomi bagi pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penyedia jasa transportasi wisata, pemandu wisata, hingga masyarakat yang menyediakan jasa homestay dan kebutuhan wisata lainnya.
Menurutnya, setiap peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Bromo akan menciptakan perputaran ekonomi yang luas karena melibatkan banyak sektor usaha yang saling berkaitan.
“Kami melihat adanya peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan penyangga wisata Bromo. Warung makan ramai, jasa transportasi meningkat, pelaku UMKM juga mendapatkan manfaat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung,” katanya.
Haji Rofiq menilai, keberhasilan Bromo menarik wisatawan di tengah berbagai pilihan destinasi wisata nasional membuktikan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya saing yang kuat. Keunikan bentang alam yang berpadu dengan kekayaan budaya masyarakat Tengger menjadi nilai lebih yang sulit ditemukan di daerah lain.
Karena itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan terus menjaga kualitas pelayanan dan kenyamanan wisatawan agar tren positif tersebut dapat terus berlanjut pada masa mendatang.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan pengelola kawasan wisata menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata.
“Kita harus bersama-sama menjaga kebersihan, keamanan, ketertiban, dan keramahan kepada wisatawan. Jika wisatawan merasa nyaman, mereka akan kembali datang dan merekomendasikan Bromo kepada orang lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Haji Rofiq mengaitkan semangat kebersamaan tersebut dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni. Ia menilai nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan toleransi yang hidup di tengah masyarakat Tengger merupakan modal sosial yang sangat penting dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata.
“Semangat Hari Lahir Pancasila mengajarkan kita untuk terus memperkuat persatuan dan gotong royong. Nilai-nilai itu pula yang menjadi kekuatan masyarakat dalam menjaga Bromo sebagai destinasi wisata kebanggaan Indonesia sekaligus sumber penghidupan bagi banyak warga,” tutup Haji Rofiq. (Tim BHI)
