Ormas Diajak Jadi Motor Perubahan, Dialog Pemerintah–DPRD Tekankan BERSOLEK dan Pentahelix

Bagikan

Kota Probolinggo – Ruang Aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Probolinggo siang itu terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang temu gagasan. Pemerintah Kota Probolinggo bersama DPRD menggelar dialog interaktif dengan 50 organisasi kemasyarakatan (ormas) se-Kota Probolinggo, Jumat (27/2/2026).

Forum ini menjadi panggung penting bagi keterlibatan ormas dalam mengawal sekaligus mengambil bagian dalam program-program pembangunan daerah.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, dan dihadiri Ketua DPRD Dwi Laksmi Synthakusumawardani, kepala perangkat daerah, serta para pimpinan ormas. Hadirnya unsur legislatif dan masyarakat dalam satu meja dialog menjadi simbol bahwa pembangunan bukan lagi kerja satu arah, melainkan gotong royong dalam makna yang sesungguhnya.

Ormas sebagai Mitra Strategis

Dalam sambutannya, wali kota menegaskan bahwa capaian Kota Probolinggo sebagai kota menuju kategori kota bersih bukanlah hasil kerja pemerintah semata. Ada partisipasi masyarakat di dalamnya, termasuk peran aktif ormas yang selama ini menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas di lapangan.

“Kita bangga mendapatkan penghargaan menuju kota bersih. Ini selaras dengan program kita, BERSOLEK. Program ini juga sejalan dengan amanat Presiden Prabowo melalui program ASRI, yang secara substansi memiliki tujuan yang sama, yakni mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan nyaman,” ujarnya.

Program prioritas BERSOLEK yang menjadi akronim semangat pembenahan kota disebut selaras dengan program nasional ASRI yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya sama yakni  kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan lingkungan.
Hal tersebut mestinya menjadi gerakan bersama, semua pihak.

Bagi ormas, pesan itu jelas. Pemerintah membuka ruang kolaborasi, bukan sekadar meminta dukungan. Mereka diajak menjadi pelaku, bukan penonton.

Perang Melawan Sampah Plastik
Isu pengendalian sampah plastik menjadi topik yang cukup hangat. Pemerintah menyebutkan tren penurunan kandungan mikroplastik di Kota Probolinggo sebagai buah dari pengelolaan sampah yang makin membaik.

“Kita sedang berperang melawan sampah plastik. Jika ini bisa kita kendalikan, masyarakat akan lebih sehat dan risiko penyakit bisa dicegah. Di Jepang, di mana kebersihan menjadi prioritas utama dan pengelolaan plastik sangat baik, sehingga endapan plastik dalam tubuh masyarakatnya mendekati nol,” jelasnya.

Namun, pemerintah juga sadar, regulasi tanpa partisipasi hanya akan menjadi kertas kosong.
Di sinilah peran ormas menjadi krusial. Edukasi lingkungan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, hingga pengawasan di tingkat RT dan RW semuanya bisa berjalan efektif jika masyarakat terlibat aktif.

Salah satu perwakilan ormas bahkan mengusulkan lomba kebersihan antar kampung sebagai strategi membangun kesadaran kolektif. Ide sederhana, tapi berdampak. Kadang perubahan besar memang lahir dari kompetisi kecil yang menyenangkan.

Pemerintah menyambut usulan tersebut dengan terbuka. Pendekatan partisipatif dinilai lebih efektif dalam membentuk perilaku dibanding sekadar imbauan formal.

Branding Kota dan Peluang Ekonomi

Tak hanya soal kebersihan, dialog juga menyentuh isu ekonomi dan branding daerah. Konsep “A City of Terrace” diperkenalkan sebagai positioning Kota Probolinggo sebagai teras menuju kawasan wisata Gunung Bromo.

Branding ini bukan sekadar nama keren. Ia adalah strategi untuk menarik investasi dan wisatawan. Jika wisata tumbuh, UMKM bergerak. Jika UMKM bergerak, kesejahteraan ikut terdorong.
Data menunjukkan angka kemiskinan turun 0,69 persen. Sinyal kecil, tapi berarti.

Ormas pun diharapkan tak hanya fokus pada isu sosial, melainkan ikut terlibat dalam penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Pelatihan kewirausahaan,
pendampingan UMKM, hingga promosi wisata lokal bisa menjadi ruang kontribusi nyata.

Pentahelix yakni Kolaborasi Lima Pilar
Wali kota juga menegaskan pentingnya pendekatan pentahelix yakni kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.

Ormas berada di simpul strategis.

Mereka dekat dengan warga, memahami denyut kebutuhan masyarakat, sekaligus mampu menyuarakan aspirasi secara terstruktur. Tanpa keterlibatan mereka, pembangunan akan terasa timpang. Ada kebijakan, tapi minim resonansi. Ada program, tapi tak menyentuh akar.

“Kita ingin membangun komunikasi yang kuat melalui dialog seperti ini. Semua pihak harus mengambil peran dalam membangun Kota Probolinggo. Hal ini membutuhkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, inklusif, serta transparan, termasuk dalam realisasi anggaran yang telah kita launching,” tegasnya

Dialog ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Kota Probolinggo berupaya membangun tata kelola yang inklusif dan transparan. Termasuk dalam realisasi anggaran yang telah dilaunching, keterbukaan menjadi kunci kepercayaan publik.

Ruang Kritik dan Harapan

Yang menarik, dialog berlangsung hidup. Beberapa ormas menyampaikan apresiasi, namun tetap kritis. Mereka menekankan perlunya strategi konkret agar program kebersihan tidak berhenti sebagai seremoni.

Nada diskusi kadang menghangat, tapi tetap dalam koridor konstruktif. Justru di situlah demokrasi tumbuh di ruang yang memberi tempat bagi suara berbeda.

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal penguatan sinergi, bukan sekadar agenda rutin. Ketika pemerintah, DPRD, dan ormas duduk sejajar, pembangunan tak lagi terasa jauh. Ia hadir di tengah warga, di gang-gang kecil, di pasar, di sekolah, di halaman rumah.

Salah satu peserta dialog, dari ormas Madas Nusantara bernama Moh. Hayyi usai acara, mengatakan, Ia sangat pengapresiasi kegiatan dialog antara Pemkot,  DPRD dan ormas.

“Dialog interaktif seperti ini, menghilangkan sekat, antara kami dengan Pemkot, tentunya juga dengan DPRD. Selama ini kita ingin terus menyuarakan kontrol dan aspirasi. Tapi melalui dialog ini, kita diajak bekerja bukan penonton yang bebas berteriak. Saatnya kita juga dituntut tanggungjawab terhadap apa yang nanti dikerjakan bersama,”
Kata Hayyi yang juga sebagai Ketua DPD Madas Nusantara Kota Probolinggo itu.

Kota Probolinggo sedang menata diri. Dan dalam proses itu, ormas bukan hanya saksi perjalanan, mereka adalah bagian dari langkah itu sendiri. Sebab kota yang bersih, maju, dan sejahtera bukan dibangun oleh satu tangan. Ia lahir dari banyak tangan yang mau bergerak bersama. (Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *