PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com — Model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) diterapkan SMA Zainul Hasan 1 Genggong melalui kegiatan lapangan yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, kewirausahaan, dan jurnalistik secara langsung, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 18.00 WIB ini melibatkan puluhan siswa yang tergabung dalam OSIS dan Pramuka. Mereka menyusuri sejumlah titik di Kabupaten Probolinggo, mulai dari Kecamatan Gending hingga Kecamatan Besuk, dalam rangka menyerap pembelajaran secara kontekstual dan aplikatif.
Perjalanan edukatif diawali di Desa Sebaung, Kecamatan Gending. Di lokasi ini, siswa berinteraksi langsung dengan Komunitas Alam Hijau untuk mempelajari pengolahan sampah dan penanaman pohon. Dua narasumber, Taufik dan Asmawi, memberikan pemahaman tidak hanya secara teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis di tengah persoalan sampah yang kian kompleks.
Suasana belajar berlangsung dinamis. Para siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan, melainkan turut terlibat dalam proses memilah sampah, menggunakan alat pengolahan, hingga menanam bibit pohon. Aktivitas ini memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan.
Kegiatan kemudian berlanjut ke Desa Randu Jalak, Kecamatan Besuk. Di sana, siswa diperkenalkan pada praktik kewirausahaan melalui budidaya lele. Narasumber Asri Istiana memaparkan tahapan budidaya secara menyeluruh, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Para siswa juga diajak meninjau langsung kolam budidaya dan sistem pengelolaannya. Dari pengalaman tersebut, mereka memahami bahwa peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari sektor besar, melainkan dapat tumbuh dari usaha sederhana yang dikelola secara konsisten.
Puncak kegiatan berlangsung di wilayah Alaskandang, Kecamatan Besuk. Dalam sesi ini, siswa mendapatkan pemahaman sekilas jurnalistik langsung di lapangan oleh praktisi media, Jhon Qudsi. Materi yang disampaikan mencakup teknik peliputan, wawancara, hingga penyusunan berita yang faktual dan berimbang.
Pembelajaran ini menjadi relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Siswa dilatih untuk berpikir kritis, melakukan verifikasi data, serta menyajikan informasi yang akurat sebagai upaya menghadapi maraknya disinformasi.
Guru pendamping SMA Zainul Hasan 1 Genggong, Bogel, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih membumi dan aplikatif.
“Kami ingin siswa tidak hanya memahami teori di dalam kelas, tetapi juga mampu melihat langsung realitas di masyarakat. Mulai dari isu lingkungan, kewirausahaan, hingga kemampuan jurnalistik,” ujarnya.
Menurutnya, integrasi tiga aspek tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.
“Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan, mandiri secara ekonomi, dan kritis dalam menyikapi informasi,” tambahnya.
Program yang diinisiasi oleh bidang kesiswaan bersama Tim Kominfo SMA Zainul Hasan 1 Genggong ini menjadi contoh konkret bahwa pembelajaran di luar kelas mampu memberikan dampak yang lebih mendalam.
Dari pengolahan sampah hingga produksi berita, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mengalami langsung prosesnya. Sebuah pendekatan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian sosial.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain,” pungkas Bogel. (Tim BHI)
