PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com – Iring-iringan bertema “Dharmayatra Prabu Hayam Wuruk Ring Candi Jabung” menarik perhatian warga yang memadati kawasan depan Rumah Dinas Bupati Probolinggo, Sabtu (29/8/2026).
Dalam gelaran Probolinggo SAE Carnival 2026 tersebut, kisah perjalanan Prabu Hayam Wuruk divisualisasikan melalui lima defile yang dirancang dengan simbol-simbol budaya dan sejarah Majapahit.
Di balik konsep dan pengelolaan rangkaian tersebut terdapat Devi Maria Ulfa atau Ning Maria, CEO sekaligus Project Manager Prabulinggih Nusa Kreatif. Ia bersama tim terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan acara.
“Di balik meriahnya Probolinggo SAE Carnival, ada ribuan detail yang harus dipastikan berjalan sebagaimana mestinya. Bagi saya, menjadi Project Manager bukan sekadar memastikan acara terlaksana, tetapi memastikan setiap proses, setiap tim, dan setiap tantangan menemukan jalannya. Proud of what we built together,” ujar Devi Maria Ulfa kepada jurnalis, Senin (31/8/2026).
Prabulinggih Nusa Kreatif dipercaya menangani kolaborasi tujuh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Probolinggo dalam perhelatan tersebut. Ketujuh OPD itu meliputi Inspektorat, DPUPR, DISPERSIP, DISKOMINFO, DPMD, BAPELITBANGDA, dan BKPSDM.
Kisah Hayam Wuruk dalam Lima Defile
Pawai budaya mengangkat narasi perjalanan spiritual Maharaja Hayam Wuruk menuju wilayah timur Nusantara. Kisah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam lima defile yang tampil secara berurutan.
Barisan pertama adalah Tanda Panji Buana, yang menampilkan dua prajurit Pandalungan sebagai pembawa banner. Mereka diikuti sepasang Manggala Yudha yang digambarkan sebagai mata dan telinga rombongan.
Selanjutnya, Garda Benteng Wilwatikta tampil dengan 35 prajurit Pasukan Bhayangkara di bawah komando Panglima Gajah Enggon. Defile ini merepresentasikan kekuatan dan perlindungan dalam rombongan kerajaan.
Kemudian hadir Simbol Keperkasaan, ditandai prajurit Pandalungan yang membawa Sang Surya Majapahit dan Panji Gula Kelapa. Dua pembawa penjor turut mengiringi bagian tersebut.
Pada bagian berikutnya, Sang Narapati & Kerabat menampilkan sosok Prabu Hayam Wuruk yang didampingi 17 punggawa kerajaan.
Rangkaian ditutup dengan Monumen Suci & Pelindung Nusantara, berupa replika Candi Jabung yang diapit 10 prajurit Pandalungan dari berbagai penjuru negeri di bawah simbol kemegahan Majapahit.
Kerja Tim di Balik Panggung
Di balik pertunjukan tersebut, sebanyak 10 personel tetap Prabulinggih Event Organizer terlibat dalam proses perancangan dan pengawalan proyek.
Konsep tidak hanya diterjemahkan dalam bentuk kostum dan properti, tetapi juga melalui koreografi serta karakter yang dimainkan sepanjang rute pawai.
Antusiasme warga terlihat ketika sejumlah penonton ikut mengikuti gerakan para peserta. Interaksi tersebut membuat suasana pawai semakin semarak.
Gus Haris Apresiasi Representasi Budaya
Bupati Probolinggo Mohammad Haris atau Gus Haris turut menyaksikan rangkaian Probolinggo SAE Carnival 2026. Ia mengapresiasi keberagaman budaya yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Menurut Gus Haris, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai kebudayaan kepada masyarakat, termasuk budaya yang belum banyak dikenal.
“Di sini kita menghadirkan banyak sekali budaya. Baik itu budaya yang secara nasional sudah dikenal, ada beberapa budaya yang memang secara minor, itu mesti kita perkenalkan di dalam acara-acara seperti ini,” ujar Gus Haris.
Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), OPD, serta peserta yang menampilkan beragam busana sebagai representasi identitas budaya.
Salah satu penampilan yang turut menarik perhatian adalah kostum Bunga Genggong, yang dibawa sebagai representasi kekayaan budaya lokal.
Meski dikemas dalam pertunjukan berskala besar, Gus Haris menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata menonjolkan kemewahan.
“Ini bukan tentang glamor, bukan tentang sesuatu yang harus kita pamerkan berlebihan,” pungkasnya. (Tim BHI)
