Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com — Jalur Pantura Kraksaan kini punya “ornamen baru” yang bikin geleng kepala. Bukan taman bunga bermekaran yang tertata rapi atau deretan hamparan batu permata berkilau, melainkan sampah liar berserakan di pinggir jalan nasional yang justru memancing rasa jijik para pengguna jalan.
Ironisnya, lokasi tersebut berada di kawasan strategis yang setiap hari dilalui kendaraan antarkota dan menjadi wajah utama Kota Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo.

Pada Senin (8/6/2026) sekitar pukul 16.45 WIB, jurnalis mendokumentasikan langsung tumpukan sampah liar berukuran besar di bahu Jalan Pantura Kerto Utomo, Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan. Dokumentasi dilakukan menggunakan GPS Map Camera dengan titik koordinat Lat -7.751029 dan Long 113.446968.
Dari pantauan di lapangan, sampah tampak berserakan cukup banyak di sisi jalan. Sebagian besar diduga merupakan limbah rumah tangga yang dibuang secara liar. Aroma tak sedap mulai tercium di sekitar lokasi, sementara pemandangan kumuh terlihat kontras dengan status kawasan tersebut sebagai jalur nasional.
Situasi itu memantik reaksi warga. Sulaiman, warga Sindetlami, Kecamatan Besuk, mengaku prihatin dengan kondisi kebersihan di kawasan perkotaan Kraksaan yang dinilainya belum tertangani maksimal oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo.
“Maraknya sampah di jalan adalah cerminan bahwa Kota Kraksaan sangat miris karena belum terkontrol dengan baik oleh DLH. Ini menjadi alarm bahwa DLH terkesan lambat,” tegas Sulaiman.
Menurutnya, persoalan sampah di jalur utama Pantura bukan sekadar masalah kebersihan biasa, melainkan sudah menyangkut citra daerah di mata masyarakat luar. Terlebih, kawasan tersebut menjadi akses vital yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan dari berbagai kota.
“Kalau wajah kota saja dipenuhi sampah, tentu masyarakat luar akan punya penilaian sendiri terhadap Kabupaten Probolinggo,” imbuhnya.
Tak hanya menyoroti persoalan sampah, Sulaiman juga menyentil fasilitas umum lain di kawasan Gelora Kraksaan yang menjadi kewenangan DLH dan dinilai belum berfungsi optimal. Ia menyinggung keberadaan tiang lampu klasik berwarna hijau di sisi timur kawasan yang hingga kini disebut belum pernah menyala sejak pertama kali dipasang.
“Lampu itu dari pertama dipasang sampai sekarang hanya jadi pajangan dan belum pernah menyala sama sekali. Hal ini memang harus segera dibenahi karena kalau malam terlihat remang-remang,” katanya.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan dan pemeliharaan fasilitas perkotaan yang berada di bawah kewenangan DLH Kabupaten Probolinggo.
Sebagai bentuk penerapan prinsip keberimbangan pemberitaan, jurnalis telah mengirimkan konfirmasi tertulis kepada Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Probolinggo, Mishul Sauliyah Fitriawati, melalui pesan WhatsApp pada Senin (8/6/2026).
Terdapat tiga poin konfirmasi yang diajukan, meliputi persoalan anggaran dan realisasi pengangkutan sampah, pengawasan lapangan terhadap titik pembuangan liar, hingga akuntabilitas kinerja DLH dalam menjaga kebersihan kawasan perkotaan.
Namun hingga Selasa (9/6/2026), pesan yang telah diterima dan terbaca tersebut belum mendapat balasan. Panggilan WhatsApp yang dilakukan jurnalis juga tidak direspons tanpa keterangan apa pun. (Tim BHI)
