Probolinggo || Harian Berita Indonesia. Com – Oleh: Taufiqurrohman, S.Pd.SD., M.Pd. (Kepala SDN Sukabumi 6 Probolinggo),
Derasnya arus digitalisasi di tahun 2026 membawa implikasi serius yang tidak lagi dapat diabaikan. Di balik kemudahan akses informasi, tersimpan sebuah krisis senyap yang mengancam pilar fundamental bangsa, yaitu kemerosotan pendidikan karakter pada anak usia Sekolah Dasar (SD).
Anak-anak generasi masa kini tumbuh dengan kecakapan digital yang luar biasa, namun di sisi lain mengalami degradasi dalam aspek tata krama, etika, dan empati. Kita terjebak dalam disorientasi pendidikan yang akut: saat angka-angka di lembar rapor diagungkan, fondasi moral anak justru perlahan digusur.
Fenomena sindrom “kecil-kecil dewasa” merebak akibat paparan algoritma media sosial yang tidak ramah anak. Etika dasar pergaulan seperti mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” kian tererosi, digantikan oleh budaya instan dan egosentrisme ruang siber.
Apabila kecerdasan intelektual dan digital ini dibiarkan melaju tanpa kendali moral, Indonesia di masa depan berisiko dipimpin oleh generasi yang cerdas secara kognitif namun cacat secara kemanusiaan.
Menghadapi kedaruratan moral ini, lembaga pendidikan tidak boleh sekadar berfungsi sebagai pabrik nilai akademik. Karakter tidak dapat diajarkan secara teoretis melalui lembar soal ujian, melainkan harus diinternalisasikan lewat pembiasaan konkret.
Strategi preventif sekaligus kuratif inilah yang kini tengah digelorakan di SD Negeri Sukabumi 6 sebagai penawar krisis moral tersebut.
Melalui pendekatan yang integratif, SD Negeri Sukabumi 6 merekonstruksi fungsi ekstrakurikuler bukan lagi sebagai pelengkap rapor, melainkan sebagai laboratorium pembentukan karakter.
Dua pilar utama yang dioptimalkan adalah ekstrakurikuler Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an (TBTQ) dan Gerakan Pramuka.
TBTQ: Jangkar Spiritual dan Regulasi Diri
Di lingkungan SD Negeri Sukabumi 6, ekstrakurikuler TBTQ diposisikan sebagai benteng spiritual bagi 152 siswa yang menjadi target sasaran. Program ini didesain melampaui batas literasi membaca dan menulis huruf hijaiyah secara mekanis.
Melalui ketelitian penekanan tajwid dan konsistensi (istikamah) belajar, siswa dilatih mengasah kesabaran dan fokus.
Secara psikologis, aktivitas ini mereduksi sifat impulsif anak yang terbiasa dengan kepuasan instan (instant gratification) dunia digital.
Nilai-nilai universal dalam Al-Qur’an ditransformasikan menjadi kompas moral dan filter internal. Walhasil, siswa memiliki imunitas siber untuk memilah informasi yang masif di jagat maya.
Pramuka: Mengasah Empati dan Ketahanan Mental (Resilience).
Jika TBTQ memperkokoh dimensi transendental (hubungan vertikal dengan Tuhan), maka Gerakan Pramuka di SD Negeri Sukabumi 6 melatih kecakapan sosial (hubungan horizontal antar-manusia). Di lapangan Pramuka, ego individu dikikis melalui simulasi kerja tim dan gotong royong.
Siswa dilatih untuk memimpin dan dipimpin, merekatkan toleransi, serta membangun ketahanan mental (resilience) di bawah supervisi terukur. Pramuka berhasil memindahkan fokus anak dari layar gawai kembali ke interaksi sosial riil. Hal ini menjadi katalis penting dalam menumbuhkan kembali rasa empati yang sempat tereduksi oleh individualisme digital.
Sinergi Tri Pusat Pendidikan
Langkah taktis yang diambil oleh SD Negeri Sukabumi 6 memberikan sebuah tesis penting: mengatasi kemerosotan karakter membutuhkan ruang perjumpaan fisik yang terstruktur dan bermakna. Ketika nilai spiritualitas dari TBTQ berkelindan dengan jiwa kesatria dari Pramuka, siswa tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga kepribadian yang tangguh. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa orientasi pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya, bukan sekadar mengejar angka kuantitatif di atas kertas rapor.
Kendati demikian, sekolah tidak dapat berjalan secara parsial. Keberhasilan transformasi karakter ini mensyaratkan sinergi Tri Pusat Pendidikan, di mana fondasi yang dibangun di sekolah wajib diteruskan melalui keteladanan orang tua di dalam rumah.
Menyelamatkan karakter anak usia sekolah dasar adalah investasi geopolitik jangka panjang bagi masa depan bangsa. Melalui komitmen kolektif ini, kita optimis bahwa anak-anak di SD Negeri Sukabumi 6, dan seluruh anak Indonesia, mampu tumbuh menjadi generasi yang cakap digital, namun tetap luhur secara kultural dan spiritual.
