Heboh! Lia dari Ponpes Ainul Hasan Wonorejo Jadi Wisudawati Terbaik UNZAH

Bagikan

Probolinggo, Minggu (07/12/2025), BeritaHarianIndonesia.com — Irodha Auliya atau Lia, santriwati Pondok Pesantren Ainul Hasan Wonorejo, mencuri perhatian publik setelah menyabet IPK 3,81 di Universitas Islam Zainul Hasan Genggong (UNZAH). Perjalanan hidupnya yang bertolak dari keluarga sederhana, tetapi dipenuhi doa dan ketekunan, menjadikannya simbol harapan baru bagi generasi santri Indonesia.

Prestasi yang Menggema dari Lorong Pesantren

Gedung Islamic Center Kraksaan menjadi saksi ketika nama Irodha Auliya disebut sebagai lulusan terbaik Fakultas Syariah UNZAH Genggong. Dengan toga berwarna hitam dan senyum yang nyaris tak bisa ia sembunyikan, Lia melangkah ke panggung membawa kisah yang tidak banyak diketahui orang.

Ia bukan hanya mahasiswa berprestasi. Ia adalah anak dari pasangan Satrawi dan Rusmini dari dua bersaudara, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Maron, yang selama bertahun-tahun bergulat dengan keterbatasan ekonomi. Namun dari rumah kecil itulah semangat belajar Lia ditempa sejak awal.

Air Mata Seorang Ibu di Balik IPK 3,81

Penghargaan demi penghargaan diberikan kepadanya, termasuk Piagam IPK Tertinggi bernomor 163/UNZAH.02/XII/2025 dan uang pembinaan dari KSPPS BMT Unzah Genggong senilai Rp1.000.000.

Di balik senyum Lia, ada kisah yang jauh lebih menyentuh.

Rusmini, ibunda Lia, mengaku bahwa perjuangan biaya kuliah hampir selalu menjadi tantangan. Berkali-kali ia harus meminjam uang agar putrinya tak sampai putus kuliah. Dengan suara bergetar, ia berkata:

“Bangga punya anak. Dia mengerti keadaan Ibu. Kalau Ibu tidak punya uang buat uang saku, dia pinjam dulu ke temannya. Saya bilang, ‘Pinjam dulu, Nak, besok Ibu ganti.’ Saya terharu… Dia penolong Ibu.”

“Doa Dulu, Baru Usaha” — Kunci Sukses yang Ia Pegang Teguh

Ketika ditemui usai acara, Lia menceritakan bahwa ia tidak pernah menargetkan diri sebagai mahasiswa terbaik. Ia hanya berpegang pada pesan gurunya, almarhum KH Ahsan Bahrul Ulum BD:

“Doa dulu, baru usaha.”

Kalimat itu menjadi pegangan setiap kali ia merasa gagal, lelah, atau ragu. Baginya, prestasi ini bukan buah kecerdasan semata, melainkan hasil konsistensi, disiplin, dan doa yang tak pernah putus.

“Saya hanya ingin ketika nama saya dipanggil, nama Bapak dan Ibu juga ikut dipanggil. Saya ingin mereka maju ke depan dan dilihat semua orang,” ujarnya.

Langkah Baru untuk Masa Depan

Bagi Lia, penghargaan ini bukan akhir perjalanan. Ia berkomitmen untuk mengamalkan ilmunya dan berkhidmah kepada masyarakat.

“Semoga ilmu ini barokah. Semoga Bapak dan Ibu selalu bangga dengan saya,” ucapnya lirih.

Ia juga menyerahkan pesan untuk para santri Ainul Hasan Wonorejo:

“Untuk adik-adik santri, semangat. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kita santri pasti bisa. Kita bisa melanglang buana, bahkan keliling dunia, asalkan kita mau berusaha.”(Tim Pok Kopok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *