Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com — Dua versi mencuat usai video perkelahian di kawasan tambang Sungai Pancarglagas, Kecamatan Pakuniran, Probolinggo viral di grup WhatsApp Rakyat Probolinggo (Jawa Timur), Jumat (10/4/2025). Kepala Desa Patemon Kulon Muhammad (Mad) mengaku hanya “merangkul” dan justru mengaku digigit. Sementara Joyo, pihak yang terlibat, menyatakan masih dalam pemeriksaan dan belum mengetahui duduk perkara sebenarnya.
Kepala Desa Patemon Kulon, Muhammad atau Mad, menjelaskan insiden itu tidak terjadi begitu saja. Pangkal masalahnya adalah aktivitas tambang di wilayah Sungai Pancarglagas yang berjalan tanpa sepengetahuan pihak desa.

“Nggak ada pamit. Pertama memang itu,” ujar Mad saat dikonfirmasi.
Salah satu warganya mengadukan adanya penyerobotan lahan dan pengrusakan di lokasi tambang. Mad mengaku tak tinggal diam. Ia mengirim surat ke pihak perusahaan (PT) yang beroperasi di sana, namun tak satu pun direspons.
“Saya berkirim surat ke pihak, gak ada yang datang. Saya mintanya yang dari pihak PT-nya,” katanya.

Situasi makin pelik ketika salah satu warga yang lahannya diklaim diserobot datang mengadu sambil menangis. Namun hingga memasuki bulan puasa, tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan.
Mad menegaskan, pihak desa sama sekali tidak pernah menerima pemberitahuan resmi terkait izin tambang yang beroperasi di wilayahnya termasuk salinan dokumen izin maupun hasil pengukuran lahan.
“Entah itu tanda tangannya siapa, saya nggak tahu. Dari pihak desa ya nggak tahu. Pengukuran nggak tahu juga,” ungkap Mad dengan nada geram.

Ia mempertanyakan posisi desa yang seolah tidak dianggap dalam proses perizinan tambang tersebut.
“Jadi desa di sini ngapain? Ada kepala desa di sini, ngapain kalau cuma tidak punya peran? Sebagai pimpinan desa, ketika ada laporan, ngadu ke siapa? Tetap ke kepala desa. Bukan pihak PT-nya, bukan pihak penambang,” tegasnya.
Puncak ketegangan terjadi ketika Mad turun langsung ke lokasi tambang dan mendapati ekskavator tengah menggaruk jalan akses yang biasa digunakan warga penambang manual.

“Kenapa saya langsung ke tambang, tiba-tiba digeruk? Ekskavatornya itu menggeruk jalannya warga yang kerja manual. Jadi saya sempat emosi, wajar seperti saya sebagai pimpinan yang ada di wilayah sini,” akunya.
Sebelum kejadian memanas, Mad sempat meminta situasi dikondusifkan dan berencana melapor ke Polsek setempat. Namun eskalasi terjadi lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Mad membantah keras tudingan bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap Joyo. Ia mengaku hanya berusaha ngelle’ (tangan kiri melingkar ke bagian leher, red) namun justru mendapat gigitan di bagian jari dan pipi.

“Saya cuma merangkul. Ketika merangkul, ada videonya. Ketika merangkul, saya digigit mungkin dia pingin cium pipi saya,” katanya, separuh berkelakar namun dengan nada serius.
Mad memperlihatkan bekas luka di bagian tangan dan sekitar wajahnya. Ia mengaku khawatir luka gigitan itu berpotensi menyebabkan tetanus.
“Takutnya ini tetanus. Soalnya ini bekas-bekas belum dibersihkan. Ya, mudah-mudahan tidak tetanus ke saya,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi terpisah mengenai insiden tersebut, Joyo tidak banyak memberikan keterangan. Ia hanya menyampaikan bahwa kejadian berlangsung sekitar pukul 09.00 pagi dan dirinya masih menjalani pemeriksaan.
“Tadi pagi jam 9. Belum tahu penyebabnya, dulur. Dan saya sekarang masih pemeriksaan,” ujarnya singkat. (Tim BHI)
