Nama Kus Disebut Menekan Korban, Perangkat Desa Jurangjeru Minta Laporan Debt Collector Sahla Riyadi Dicabut

Bagikan

Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com – Nama Kus atau Hasem, yang disebut sebagai perangkat Desa Jurangjeru, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, kini menjadi sorotan setelah keluarga korban penarikan paksa kendaraan oleh kelompok debt collector atau tokang cabel mengaku mendapat tekanan untuk mencabut laporan polisi.

Keluarga Tofari, warga Desa Jurangjeru, menyebut Kus atau Hasem datang langsung ke rumah mereka dan meminta agar laporan terhadap Sahla Riyadi sosok yang dituding sebagai bagian dari komplotan debt collector di wilayah Kraksaan dibatalkan.

Pengakuan tersebut disampaikan Tofari saat ditemui di kediamannya pada Rabu (4/3/2026). Ia mengatakan tekanan mulai muncul setelah dirinya melaporkan dugaan penarikan paksa kendaraan ke Polres Probolinggo.

“Itu ada yang mengintimidasi dari kemarin sampai tadi malam. Saya disuruh membatalkan laporan,” kata Tofari.

Saat ditanya apakah orang yang datang merupakan perangkat desa, Tofari membenarkannya.

“Iya,” ujarnya singkat.

Tofari bahkan mengaku mendapat ancaman jika laporan tersebut tidak dicabut.

“Kalau tidak cabut laporan, nanti ke belakangnya ada masalah besar,” ucapnya menirukan pesan yang diterima.

Menurut Tofari, tekanan tersebut berkaitan langsung dengan laporan terhadap Sahla Riyadi yang disebut-sebut sebagai penghubung komplotan debt collector yang beroperasi di wilayah Kraksaan.

Tekanan terhadap keluarga korban juga diakui oleh Yuni, istri Tofari. Ia mengatakan ada pihak yang meminta agar laporan polisi dicabut karena dianggap akan menimbulkan persoalan baru.

Rasa takut semakin besar karena anak-anak mereka masih kecil.

“Bi kabbi nyoro nyabut, guleh takok onggu, jek anak telo’an nik-kenik kabbi,” ujar Yuni.

(Artinya: Semua menyuruh mencabut laporan. Saya benar-benar takut karena anak tiga masih kecil semua.)

Saat ditanya siapa pihak yang meminta laporan tersebut dicabut, Yuni menyebut nama Kus atau Hasem “kampong” sebagai perangkat Desa Jurangjeru Kecamatan Gading.

“Pak Kus,” jawabnya.

Keluarga juga mengaku sempat mendengar ancaman bahwa bantuan dari pemerintah desa bisa saja dihentikan apabila laporan terhadap Sahla Riyadi tetap dilanjutkan.

Tekanan tidak hanya dirasakan oleh keluarga Tofari. Rudi, pendamping korban dari Laskar Jogo Probolinggo, juga mengaku menerima ancaman setelah ikut mendampingi korban.

Menurutnya, ancaman itu datang melalui pesan WhatsApp dari pihak yang tidak dikenal.

“Jangankan Mas Tofari yang diancam, saya yang mendampingi saja sudah beberapa kali diancam. Bahkan ada yang mengajak duel,” kata Rudi.

Meski demikian, ia menegaskan tidak akan mundur dari upaya pendampingan terhadap korban.

“Saya tidak takut karena saya membela yang benar. Saya hanya ingin Probolinggo aman dari praktik premanisme di jalan,” tegasnya.

Rudi juga meminta aparat kepolisian segera menindaklanjuti laporan tersebut, mengingat tekanan terhadap korban terus terjadi.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kus atau Hasim yang disebut sebagai perangkat Desa Jurangjeru telah dilakukan melalui pesan WhatsApp pada Kamis (5/3/2026).

Namun hingga berita ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan, meskipun pesan yang dikirimkan telah terbaca. (Tim Investigasi)

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *