Tokoh Pendidikan :

Bagikan

Ketika Anak Anak Papua
Merajai Olimpiade Matematika, Kata Prof Yohanes Surya : Tidak Ada Anak Yang Bodoh

Probolinggo, Senin (19/2/2026) BeritaHarianIndonesia.com –
Di desa-desa sunyi di Papua, lahir cerita nyata yang lebih dari sekadar hitung-hitungan. Bukan cuma soal angka yang berbaris rapi atau rumus yang terasa kaku. Ini cerita tentang keyakinan yang di bangun pelan tapi pasti.

Di tengah kisah itu, berdiri tegak sosok Prof Yohanes Surya,  seorang fisikawan. Lewat tangannya, matematika yang dulu terasa menakutkan sekarang menjadi seolah mainan yang disukai. Ia mengenalkan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan).

Kedengarannya sederhana, tapi di balik kesederhanaan itu, ada cara pandang yang membongkar kebiasaan lama. Anak-anak tak lagi dipaksa menghafal trik cepat yang rapuh.

Mereka diajak menyentuh akar konsepnya, yakni logika, pelan dan bertahap  sampai benar-benar paham, sampai terdengar bunyi “klik di kepala.

Di kelas-kelas sederhana, deretan angka yang dulu dibenci. Rumus matematika yang dulu seperti monster. Semua diurai perlahan, seperti membuka simpul tali yang kusut. Dan ketika satu soal berhasil dipecahkan, senyum itu muncul, senyum yang tak bisa dibeli. Senyum karena anak-anak merasa mampu.

Menjemput Harapan ke Pedalaman Papua yang membuat langkahnya berbeda bukan cuma metodenya, tapi keberaniannya. Ia tidak menunggu murid datang mengetuk pintu rumahmya untuk belajar. Ia yang jemput bola, berjalan jauh, menembus wilayah terpencil Papua. Tempat di mana akses pendidikan sering lebih sebagai fata morgana dibanding jalan tanah yang  Ia lalui sesungguhnya.

Di sana, stigma kadang tumbuh lebih cepat daripada kesempatan yang mestinya ada. Tapi ia datang membawa keyakinan sederhana, ” tak ada anak yang bodoh.” Yang ada hanya anak yang belum diberi cara belajar yang tepat.

Ia mencari mutiara-mutiara yang tersembunyi di tengah keterbatasan. Anak-anak yang mungkin belum pernah memegang buku olimpiade. Belum pernah membayangkan berdiri di panggung luar negeri. Namun ketika diberi ruang dan metode yang tepat, potensi itu muncul seperti matahari membelah mendung berkepanjangan.

Menggema di Panggung Asia
Tahun 2011 menjadi saksi. Dalam ajang Asian Science and Mathematics Olympiade for Primary School (ASMOPS), siswa-siswa binaan dari Papua membuat banyak orang terdiam, tercengang. tangis haru meledak, tak percaya. Mereka meraih empat medali emas, lima perak dan tiga perunggu.

Empat emas. Dari anak-anak yang dulu sering dipandang sebelah mata.
Nama-nama seperti Syors Srefle dari Sorong Selatan, Natalisa Dori dari Waropen, dan Kristian Murib bukan sekadar deretan huruf. Mereka adalah bukti bahwa kecerdasan tak memilih alamat.

Timur Indonesia bukan pinggiran lagi. Dari sana, cahaya bisa menyala terang bahkan menyilaukan.
Prestasi itu lebih dari sekadar medali berkilau. Ia seperti pukulan telak yang menyadarkan, bahwa keterbatasan geografis bukanlah vonis. Bukan takdir yang tak bisa diubah.

Namun perjuangan itu tak berhenti di podium. Bagi Prof Yohanes Surya, kemenangan sejati bukan hanya ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di negeri orang. Ia tahu, perubahan harus berakar.

Pelatihan guru digencarkan. Sistem belajar dibenahi. Infrastruktur diperjuangkan. Karena kalau hanya mengandalkan satu generasi juara, kisah itu bisa padam. Tapi jika fondasinya kuat, api itu akan terus menyala.

Yang ditanam Prof Yohanes bukan cuma kemampuan berhitung. Ia menanamkan mental juara. Anak-anak Papua yang dulu mungkin merasa minder kini berani menatap langit lebih lama,  sangat percaya diri. Berani bermimpi jadi ilmuwan, insinyur, peneliti. Berani membayangkan masa depan yang dulu terasa jauh.

Pelan tapi pasti, langkahnya mematahkan anggapan lama tentang ketertinggalan. Ia menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada anak-anaknya. Bukan pada bakatnya. Melainkan pada akses, metode, dan kesempatan yang selama ini tak merata.
Ketika cara yang tepat bertemu keyakinan yang tulus, hasilnya bisa melampaui ekspektasi.

Dan mungkin, kemenangan terbesar itu bukan saat lampu panggung olimpiade menyala terang. Bukan saat medali dikalungkan di leher. Tapi ketika seorang anak di pedalaman Papua tersenyum kecil karena berhasil memecahkan soal matematika yang dulu terasa mustahil.

Di ruang kelas sederhana itu. Di bawah atap yang mungkin bocor saat hujan. Di situlah revolusi kecil itu terjadi. Sunyi, tapi menggetarkan.
“Tidak ada anak yang bodoh”, itu filosofi Prof Yohanes Surya, hanya perlu metode mengajar yang tepat. Dan 4 medali Emas, 5 medali perak dan 3 medali perunggu disabet anak-anak Papua pada ajang lomba bergengsi Asian Science and Mathematics Olympiade for Primary School (ASMOPS). Bukan main! Itu benar-benar terjadi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *