Di Balik Senyum Dava, Ada Perjuangan Panjang Melawan  Tumor Ganas

Bagikan

Probolinggo, Senin (16/2/2026) BeritaHarianIndonesia.com –
Hidup kadang berbelok tanpa aba-aba. Di usia yang mestinya sibuk menyusun mimpi, Dava justru harus berhadapan dengan kenyataan yang tak pernah ia duga. Pemuda Lulusan SMK di Kota Probolinggo itu kini lebih sering tergolek tak berdaya ketimbang melamar pekerjaan.

Pemuda dengan nama lengkap Mochammad Dava Nuri Saputra, akrab disapa Dava usia 21 tahun itu menderita tumor ganas yang hingga kini belum tertangani dengan tuntas
Karena keterbatasan biaya.

Dava tinggal di Jalan Kyai Mugi, RT 09, RW 09, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Semua bermula pada Februari 2025. Saat itu, Dava menyadari ada benjolan kecil di pinggangnya. Ukurannya hanya sebesar lingkaran jari telunjuk. Tak sakit, tak mengganggu. Ia mengira itu sekadar benjolan lemak biasa sesuatu yang bisa diabaikan sambil lalu. Namun waktu bergerak mengalir, perlahan benjolan itu membesar. Ketika Ia periksa di Puskesmas Jati, dokter menyarankan untuk operasi, namun Dava takut tidak punya biaya.

Ketakutan soal biaya menjadi tembok pertama yang menghalangi langkahnya. Keputusan menunda operasi itulah yang kemudian membawa cerita ini ke babak yang lebih berat.

Beberapa bulan berlalu, benjolan itu tumbuh. Dari kecil dan nyaris tak terasa, kini membesar hingga seukuran bola sepak. Rasa nyeri mulai datang, pelan-pelan tapi pasti. Duduk terlalu lama membuat pinggangnya seperti ditusuk jarum. Tidur pun tak lagi nyaman.

Kondisinya yang kian memburuk membuat keluarga akhirnya kembali membawanya ke Puskesmas Jati. Dari sana, Dava dirujuk ke RSUD dr. Moh. Saleh. Di rumah sakit tersebut, serangkaian pemeriksaan dilakukan pada April 2025,

Hasilnya membuat hati keluarga tercekat. Ditemukan adanya kerusakan pada tulang rusuknya.
Belum selesai di situ, pada Juni 2025 Dava kembali dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya untuk penanganan lebih lanjut.

Di rumah sakit rujukan itu, ia menjalani serangkaian pemeriksaan
lanjutan, serta dijadwalkan menjalani kesehatan secara menyeluruh. Setiap pemeriksaan seperti membuka lapisan baru dari ketidakpastian.

Di sisi lain, Dava sebenarnya telah menyusun rencana sederhana selepas lulus sekolah. Ia ingin segera bekerja. Ia ingin melamar di beberapa tempat. Kini, rencana itu harus tertunda. Mimpi yang semula terasa dekat, mendadak menjauh.

Sang ibu, Nur Halima (43), menjadi saksi paling setia dari setiap langkah perjuangan anaknya. Ia mengaku tak sanggup melihat kondisi Dava yang terus menahan nyeri. Harapannya sederhana, anaknya bisa segera sembuh melalui operasi.

Nur Halima yang dulunya bekerja  kini ia memilih berhenti. Waktunya dihabiskan di rumah, menjaga cucunya sekaligus merawat Dava.

Saat beberapa wartawan dari berbagai media berkunjung dan memberikan bantuan pada Jumat (13/2/2026), Nurhalimah hanya bisa berucap trimakasih dan bersyukur atas perhatiannya kepada Dava.

“Alhamdulillah bantuan ini sangat membantu kami. Semoga semua donatur yang telah peduli mendapatkan keberkahan,” ujar Nurhalimah dengan penuh haru.

Seorang tetangganya bernama Yudi Hermanto juga mengatakan sudah mencarikan bantuan, namun belum berhasil.

” saya sudah ke beberapa teman yang mungkin bisa menghubungkan dengan pihak-pihak yang bisa  membantu operasi, tapi belum berhasil,” Katanya kecewa.

Di rumah sederhana itu, harapan masih menyala meski redup. Setiap hari adalah doa yang diulang-ulang. Setiap langkah ke rumah sakit adalah ikhtiar yang tak pernah benar-benar bebas dari bayang-bayang biaya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga ini hanya bisa menggantungkan harapan pada bantuan agar Dava bisa ditangani dan sembuh.

Mereka percaya, di balik ujian yang berat, selalu ada celah cahaya yang menunggu untuk ditemukan.

“Semoga anak saya cepat sembuh, itu saja doa saya,” ucap Nur Halima pelan.

Dan di sudut kota yang mungkin tak banyak orang tahu, seorang pemuda masih memeluk cita-citanya dengan erat. Meski tubuhnya menanggung beban, hatinya tetap menyimpan harapan, suatu hari nanti, ia akan kembali berdiri tegak bukan hanya tanpa benjolan, tapi juga tanpa rasa takut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *