Hadi, Kontraktor Asal Maron, Belum Beri Penjelasan Substantif, Warga Semampir Desak Perbaikan Dampak Proyek Merah Putih

Bagikan

PROBOLINGGO, BeritaHarianIndonesia.com — Keluhan warga mengenai dugaan terganggunya sistem drainase akibat pembangunan Gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kelurahan Semampir belum memperoleh penjelasan dari Hadi, warga asal Kecamatan Maron yang disebut sebagai kontraktor pelaksana proyek tersebut. Saat dimintai konfirmasi mengenai dugaan saluran air yang tertimbun tanah urukan hingga memicu banjir di permukiman, Hadi hanya membalas singkat melalui WhatsApp tanpa menjawab pokok pertanyaan yang diajukan.

Keluhan itu disampaikan salah seorang warga, Umi Hariroh (50), pemilik rumah di RT 01/RW 06 Gang Pattimura sisi timur, Kelurahan Semampir. Menurutnya, sejak proyek pembangunan gedung koperasi berlangsung, rumahnya berulang kali kemasukan air ketika hujan turun.

Umi Hariroh menuturkan air hujan yang seharusnya mengalir ke saluran pembuangan kini justru masuk ke dalam rumahnya. Menurutnya, kondisi ini terjadi sejak jalan di depan rumahnya yang semula lebih tinggi dari badan jalan berubah setelah proyek pembangunan gedung koperasi berjalan.

“Itu rumah saya kebanjiran, masuk ke dalam air. Karena dampaknya ini, enggak ada selokan. Selokan ini enggak ada larinya air. Jadi rumah saya itu setiap hujan, banjir ke dalam,” ujarnya. Kamis siang (2/7/2026).

Ia menjelaskan, sebelum proyek berjalan, jalan di gang tersebut berupa paving dengan saluran pembuangan air hujan di bagian tengah, sehingga air dapat mengalir lancar tanpa masuk ke rumah warga. Namun setelah area itu ditimbun tanah urukan untuk kebutuhan proyek, saluran tersebut tertutup dan aliran air berbelok ke pemukiman.

“Awalnya pendekan sini, tinggian rumahnya. Jadi bagus, air itu ngalir di tengah (saluran gorong-gorong, red), batako (paving, red). Tapi tengah itu ada pembuangan air hujan (saluran beresih tanpa tertimbun tanah, red). Jadi enggak banjir rumah-rumah ini. Sekarang rumah-rumah ini banjir. Rumah saya tempo hari itu masuk ke dalam airnya,” katanya.

Umi mengaku terpaksa merogoh kantong sendiri untuk mengatasi dampak proyek tersebut. Ia membeli tanah urukan sebanyak dua rit pikap guna memperbaiki area di sekitar rumahnya secara swadaya, karena perbaikan yang dilakukan pihak proyek dinilai belum menyelesaikan akar masalah.

“Tanah pun saya beli sendiri, beli kerikil, urukan itu. Jadi sini saya perbaiki sendiri,” ucapnya. Ia menegaskan pembelian tanah tersebut dilakukan atas biaya pribadi, bukan dari pihak kontraktor proyek KDMP.

Ia menyayangkan penanganan saluran yang menurutnya hanya berupa penimbunan tanah tanpa disertai pembangunan saluran pembuangan air baru. “Saya mau tanya, ini kan hanya ditumpukin tanah aja itu kan? Tapi tidak ada pembuangan air,” katanya, merujuk pada saluran pracetak U-ditch yang tertimbun tanah urukan di lokasi proyek.

Umi menyatakan kondisi tersebut merugikan dirinya dan warga sekitar. Ia meminta agar jalan gang dikembalikan seperti kondisi semula, yakni dipasang paving dengan saluran air hujan di bagian tengah agar tidak lagi merembes ke rumah-rumah warga.

“Tanggapan saya ya merugikan, warga sini. Tetap rugi. Saya minta seperti semula, dibatako (paving, red), terus tengah itu dikasih saluran air lagi (supaya tanah yang tertimbun penutup gorong-gorong di bersihkan, red). Biar air hujan tidak masuk ke rumah warga-warga,” tegasnya.

Kepada kontraktor yang mengerjakan proyek Gedung Koperasi Merah Putih, Umi berharap keluhan warga segera ditindaklanjuti. “Saya berpesan, tolong ini ditanggapi. Mulai awal kan ini jalannya bagus, ya harus dikembalikan semula. Air hujan mengalir di gorong-gorong. Awal di gorong-gorong,” ujarnya.

Menanggapi keluhan warga, Lurah Semampir, Latif, menyatakan pihaknya akan mengawal persoalan ini hingga ke tingkat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Probolinggo, yang dijadwalkan berlangsung Rabu pekan depan.

“Saya akan mengawal ke Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD kabupaten insyaallah dijadwalkan pada Rabu 8, Juli 2026 depan, menyampaikan keluh kesah dari warga kelurahan Semampir RT/RW 1/6 Gang Pattimura sebelah sisi timur,” kata Latif.

Sementara itu, Hadi, yang disebut-sebut dari Dusun Lebbe, Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron sebagai kontraktor pelaksana proyek Gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) Semampir, telah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp. Kepadanya diajukan sejumlah pertanyaan mengenai kebenaran statusnya sebagai kontraktor pelaksana proyek, tanggapan atas keluhan warga terkait saluran air yang tertimbun tanah urukan, serta rencana perbaikan atau normalisasi saluran drainase agar kembali berfungsi seperti semula.

Hadi hanya membalas singkat, “Alhamdulillah, terima kasih infonya. Sehat ajunan?” tanpa memberikan jawaban atas substansi pertanyaan yang diajukan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tampak sejumlah pekerja masih melakukan penumpukan tanah urukan di area Gang 2. Warga berharap area tersebut segera dipasangi paving dan saluran pracetak U-ditch yang saat ini dalam kondisi retak dan bergeser posisinya dapat dibenahi dikembalikan rapi seperti semula, dengan bagian yang pecah segera diganti. (Tim BHI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *