Pria Asal Plaosan Tewas Dikeroyok di Desa Sentul, Sang Istri Akan Melapor ke Polres

Bagikan

Probolinggo, BeritaHarianindonesia.com — Istri almarhum MR (23), korban pengeroyokan warga di Desa Sentul, Kabupaten Probolinggo, menyatakan tidak menerima kematian suaminya dan meminta keadilan ke Polres. Pernyataan itu muncul setelah FT yang sempat koma saat kejadian akhirnya pulih dan bisa berbicara. Kepala Desa Plaosan, Tosan, menyatakan siap mendampingi FT ke Polres Probolinggo, hal itu disampaikan di kediamannya pada Rabu (6/5/2026).

Tragedi yang menimpa keluarga MR terjadi berlapis. Pada Rabu malam (22/4/2026), korban dikeroyok sejumlah warga di Dusun Janti, RT 006 RW 002, Desa Sentul, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Dalam kondisi kritis, MR sempat dilarikan ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada dini hari.

Di saat yang sama, FT—istri korban—justru tengah berada dalam kondisi koma di rumah sakit. Ia tidak mengetahui sedikit pun peristiwa tragis yang merenggut nyawa suaminya.

“Waktu kejadian itu kan si istri masih koma, gak bisa bicara. Masih parah-parahnya sakit waktu itu. Jadi gak bisa ngomong, gak bicara masalah autopsi, bicara masalah mau nuntut, gak nerima, gak nuntut,” tutur Kepala Desa Plaosan, Tosan, dengan nada prihatin.

Seiring waktu, kondisi FT mulai berangsur membaik. Setelah diperbolehkan pulang dan bisa kembali berkomunikasi, pemerintah desa langsung mendatangi kediamannya untuk memastikan sikap keluarga atas kejadian tersebut.

“Datang dari rumah sakit keadaannya sudah agak mending, bisa bicara. Akhirnya kemarin didatangi oleh pemerintah desa, ditanyakan, ‘Buk mau nuntut apa enggak?’ Akhirnya itu sesuai video. Dia, si istri almarhum gak nerima,” ungkap Tosan.

Penolakan FT, lanjut Tosan, bukan sekadar soal tuntutan hukum, melainkan lahir dari rasa keadilan yang terusik sebagai seorang istri yang kehilangan pasangan dalam kondisi tragis.

“Intinya gak nerima itu bukan mau nuntut ini itu. Cuman merasa mungkin suaminya gak bersalah, terus matinya sadis kayak itu. Mungkin gak nerima,” jelasnya.

FT pun menyampaikan keinginannya untuk mendatangi Polres Probolinggo guna mencari keadilan atas kematian suaminya yang dinilai tidak wajar. Pemerintah Desa Plaosan memastikan akan mendampingi penuh langkah tersebut.

“Maunya si istri korban minta diantar ke Polres, meminta keadilan. Kami sebagai pemerintah desa siap mendampingi,” tegas Tosan.

Ia menambahkan, proses hukum sepenuhnya akan diserahkan kepada aparat kepolisian, namun pihak desa tidak akan membiarkan keluarga korban berjuang sendirian.

“Nanti langkah selanjutnya kan pihak yang berwajib yang tahu kronologinya kayak apa. Yang penting ada pengembangan, dapat keadilan dari pihak yang berwajib kepada keluarga korban,” ujarnya.

Di balik insiden ini, tersimpan latar belakang kehidupan korban yang memprihatinkan. MR diketahui tengah mengalami tekanan hidup berat akibat kondisi ekonomi dan kesehatan istrinya.

“Keadaan si korban waktu itu memang depresi, stres. Karena istri sakit, dalam beberapa bulan sampai bengkak semua. Dan juga tertekan masalah ekonomi. Kehidupan MR sehari-harinya itu buruh tani, upahnya setengah hari itu Rp40 ribu. Mungkin tidak cukup,” paparnya.

Pada malam kejadian, MR disebut mendatangi rumah kakeknya di Desa Sentul. Namun situasi keamanan yang tengah rawan aksi kriminal membuat warga diliputi kecurigaan.

“Katanya mau masuk ke rumah orang waktu itu. Pas kebetulan sekarang ini kan marak-maraknya begal. Ya mungkin dicurigai warga bahwa ada maling. Jadi warga mudah terpengaruh. Dan sampai terjadilah pembunuhan yang di luar perikemanusiaan,” terang Tosan.

Kini, di tengah upaya menuntut keadilan, kondisi FT sendiri masih memprihatinkan. Ia harus menjalani perawatan intensif akibat penyakit yang dideritanya, termasuk cuci darah. Sementara dua anaknya yang masih balita—berusia 2 dan 4 tahun—harus tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah.

“Istrinya almarhum dalam keadaan sakit, bahkan kena asam lambung sampai ke ginjal, harus cuci darah. Jadi sangat prihatin,” kata Tosan.

Ia pun mengimbau seluruh pihak untuk memberikan perhatian serius terhadap keluarga korban, tidak hanya dalam proses hukum, tetapi juga dalam keberlangsungan hidup mereka ke depan.

“Yang sudah meninggal namanya takdir. Tapi yang ditinggalkan menanggung trauma yang sangat mendalam. Apalagi punya anak kecil. Mohon pendampingannya untuk mendapatkan keadilan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Probolinggo belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus pengeroyokan yang menewaskan MR tersebut. (TIM BHI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *