Tradisi Pencak Silat Pesantren Kembali Bersinar, Mahfudz Santri Ainul Hasan Wonorejo Borong Dua Gelar Kickboxing Jatim 2026

Bagikan

Probolinggo, BeritaHarianIndonesia.com — Tradisi pencak silat yang selama puluhan tahun menjadi denyut kehidupan Pondok Pesantren Ainul Hasan Wonorejo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, kembali menemukan momentumnya. Muhammad Mahfudz, salah satu santri terbaik pesantren tersebut, sukses membawa pulang dua trofi sekaligus dalam ajang Kejuaraan Kickboxing Championship Piala Stafsus Kemendes PDT RI 2026 yang digelar di Pacet, Mojokerto, pada 15–17 Mei 2026.

Prestasi itu bukan sekadar kemenangan di arena olahraga bela diri. Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Ainul Hasan, capaian tersebut menjadi simbol bahwa warisan perjuangan almarhum KH. Ahsan Bahrul Ulum dalam membangun tradisi pencak silat di lingkungan pesantren masih tetap hidup dan terus berkembang di tangan generasi muda santri.

Oplus_131072

Dalam kejuaraan yang mempertemukan atlet-atlet kickboxing terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur itu, Mahfudz tampil mewakili Perguruan Pencak Silat Qolbul Qur’an yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Ainul Hasan Wonorejo. Penampilannya mencuri perhatian sejak babak awal pertandingan. Dengan teknik bertarung yang disiplin, mental kuat, dan stamina prima, ia berhasil meraih Juara 1 cabang K-One serta Juara 2 cabang Kickboxing.

Kabar kemenangan tersebut langsung disambut penuh haru oleh para pengasuh dan santri di lingkungan pesantren. Suasana bangga terasa begitu kuat karena kemenangan Mahfudz dianggap sebagai kelanjutan dari pondasi perjuangan pesantren yang sejak awal berdiri memang memiliki hubungan erat dengan dunia pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama melalui Pagar Nusa.

Pengasuh Pondok Pesantren Ainul Hasan, Gus Muhammad Rizqil Hasan Muqorrobin atau Gus Fadil, mengaku sangat bersyukur atas prestasi yang diraih santrinya tersebut. Menurutnya, kemenangan itu memiliki makna historis bagi perjalanan panjang Pondok Pesantren Ainul Hasan.

“Atas nama jajaran pengasuh Pondok Pesantren Ainul Hasan, kami sangat bersyukur dengan diraihnya kejuaraan ini oleh saudara Muhammad Mahfudz. Karena awal mula Pondok Pesantren Ainul Hasan berdiri ini adalah dari pencak silat, bagian dari komisariat Pagar Nusa. Jadi ini adalah menjaga pondasi pesantren yang dibangun almarhum Kyai Haji Ahsan Bahrul Ulum,” ujar Gus Fadil, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, tradisi bela diri di lingkungan pesantren selama ini bukan hanya sebatas aktivitas olahraga, melainkan bagian dari pendidikan karakter santri. Nilai kedisiplinan, keberanian, ketekunan, hingga penghormatan kepada guru menjadi ruh utama yang terus ditanamkan melalui latihan pencak silat maupun olahraga tarung lainnya.

Gus Fadil berharap capaian Mahfudz mampu menjadi pemantik semangat bagi santri-santri lain agar terus berprestasi, baik di bidang akademik, keagamaan, maupun olahraga.

“Kami berharap ke depannya lebih banyak lagi prestasi yang diraih oleh santri Pondok Pesantren Ainul Hasan dalam segala bidang, khususnya pencak silat, boxing, dan yang lain sebagainya. Saya sangat bangga dan sangat bahagia, semoga ke depannya makin banyak,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Mahfudz mengaku kemenangan yang diraihnya tidak lepas dari doa para guru, dukungan orang tua, dan proses latihan panjang yang dijalaninya selama ini. Mahasiswa semester 6 Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Zainul Hasan Genggong (UNZAH) tersebut menyebut perjalanan menuju podium juara dipenuhi pengorbanan dan latihan intensif.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas kemenangan saya dalam ajang kejuaraan ini. Tentunya ini juga bagian dari doa dan dukungan guru serta orang tua,” ucap Mahfudz.

Mahfudz juga berharap Perguruan Pencak Silat Qolbul Qur’an ke depan semakin berkembang dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi dari kalangan pesantren.

“Saya sangat berharap ke depannya bisa terus membawa kemenangan buat Perguruan Pencak Silat Qolbul Qur’an. Mudah-mudahan semua atlet Qolbul Qur’an ke depannya semakin berkembang dan semakin banyak membawa kemenangan buat Pondok Pesantren Ainul Hasan,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Ainul Hasan Wonorejo sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia pencak silat. Pesantren yang didirikan pada tahun 1997 oleh almarhum KH. Ahsan Bahrul Ulum atau Kyai Budi itu tumbuh dari komunitas pencak silat di bawah naungan Pagar Nusa Nahdlatul Ulama. Dari kawasan sederhana di Kecamatan Maron, pesantren tersebut perlahan berkembang menjadi pusat pendidikan agama sekaligus pembinaan karakter dan bela diri bagi para santri.

Kini, melalui lahirnya atlet muda seperti Muhammad Mahfudz, semangat perjuangan pendiri pesantren kembali menemukan jalannya. Prestasi di Kejuaraan Kickboxing Championship Piala Stafsus Kemendes PDT RI 2026 menjadi bukti bahwa santri Ainul Hasan tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu tampil tangguh, disiplin, dan berprestasi di arena kompetisi tingkat Jawa Timur. (Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *